Pelaksanaan Festival Apangi dan Kue Tradisional dalam rangka memperingati 10 Muharam 1448 Hijriah di Lapangan Mangga Dua, Desa Datahu, Kabupaten Gorontalo, Rabu malam, 1 Juli 2026, tidak hanya menjadi pesta rakyat, tetapi juga menegaskan konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi keagamaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Setelah sebelumnya Kepala Desa Datahu, Saipul Hemu, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang telah memasuki tahun kesembilan, panitia pelaksana kemudian menjelaskan bahwa secara perhitungan resmi festival tahun ini tercatat sebagai pelaksanaan kedelapan.
Panitia Festival Apangi, Supriyanto Tuna, mengatakan perhitungan tersebut dilakukan karena satu tahun penyelenggaraan sebelumnya tidak dihitung akibat pandemi Covid-19 yang sempat menghentikan aktivitas masyarakat.
“Dari MC tadi disebutkan ini adalah festival Apangi yang kedelapan kali. Sebenarnya harusnya sembilan, tetapi karena sempat ada badai corona maka satu tahun itu tidak dihitung. Jadi ini yang kedelapan yang resmi dihitung,” ujar Supriyanto saat menyampaikan laporan panitia di panggung utama festival.
Dalam sambutannya, Supriyanto menegaskan keberhasilan penyelenggaraan festival sepenuhnya merupakan hasil kerja keras para remaja Masjid Al-Bayan bersama seluruh tim panitia yang telah bekerja mempersiapkan kegiatan sejak jauh hari.
“Saya ingin menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah hasil kinerja luar biasa remaja Masjid Al-Bayan. Ketua panitia bersama seluruh tim telah bekerja keras mempersiapkan semuanya. Saya sendiri hanya berada di belakang layar, sementara yang bekerja penuh adalah teman-teman panitia,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang hadir memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan festival, termasuk sejumlah anggota legislatif, aparat keamanan, tokoh masyarakat, sponsor, hingga para jamaah yang selama ini terus membersamai kegiatan tahunan tersebut.
Menurut Supriyanto, Festival Apangi tahun ini diikuti sebanyak 30 stand yang seluruhnya diisi masyarakat dan jamaah yang tidak hanya berasal dari Desa Datahu, tetapi juga dari sejumlah desa lain di sekitar Kecamatan Tibawa yang selama ini ikut berpartisipasi dalam perayaan tersebut.
“Kami mewakili teman-teman remaja Masjid Al-Bayan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas dukungan, partisipasi, dan kepercayaan seluruh jamaah. Ini bukan hanya jamaah Masjid Al-Bayan di Desa Datahu, tetapi juga jamaah dari desa lain yang selalu hadir setiap pelaksanaan Festival Apangi,” ungkapnya.
Ia mengatakan konsep festival sengaja dikemas berbeda agar peringatan 10 Muharam tidak hanya menghadirkan kegiatan seremonial keagamaan, tetapi juga mampu menarik perhatian seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda dan anak-anak.
“Peringatan 10 Muharram ini kami bungkus dalam bentuk festival karena ada unsur entertainment sekaligus religius. Ini bagian dari syiar agama. Kalau hanya monoton ceramah di masjid, biasanya yang hadir terbatas. Tetapi malam ini kita lihat anak-anak usia lima sampai enam tahun juga hadir dan ikut mendengarkan tausiah,” jelas Supriyanto.
Antusiasme masyarakat, lanjut dia, bahkan di luar perkiraan panitia. Sejak awal kegiatan dimulai, pengunjung memadati area festival hingga menyebabkan antrean panjang di pintu masuk lokasi untuk mendapatkan kupon penukaran kue apangi yang telah disiapkan panitia.
“Kami memohon maaf apabila tadi di pintu gerbang terjadi desak-desakan. Jujur kami tidak berekspektasi antusiasme masyarakat akan sebesar ini karena kami tahu di tempat lain juga ada kegiatan serupa. Tetapi ternyata malam ini antusias jamaah benar-benar luar biasa membeludak,” tuturnya.
Di sela pelaksanaan festival, panitia juga melakukan proses penilaian terhadap seluruh stand peserta secara objektif untuk menentukan peserta terbaik dalam penyajian dan kreativitas stand yang ikut ambil bagian dalam festival tersebut.
Supriyanto memastikan seluruh proses penilaian dilakukan secara adil tanpa intervensi pihak manapun, sekaligus mengapresiasi para sponsor dan pihak yang telah memberikan bantuan baik dalam bentuk materi, material, maupun dukungan teknis selama pelaksanaan kegiatan.
“Penilaian saat ini sedang berjalan dan kami memastikan semuanya dilakukan secara objektif. Tidak ada perlakuan khusus kepada siapa pun. Kami juga berterima kasih kepada seluruh sponsor dan semua pihak yang telah membantu, baik pikiran, materi maupun material, sehingga kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik,” katanya.
Menutup sambutannya, Supriyanto menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama pelaksanaan kegiatan dan berharap Festival Apangi terus menjadi agenda tahunan yang mampu memperkuat syiar Islam sekaligus menjaga kebersamaan masyarakat Desa Datahu.
“Kami atas nama seluruh panitia memohon maaf apabila dalam pelaksanaan festival ini masih terdapat banyak kekurangan. Kami berharap kegiatan ini terus menjadi bagian dari syiar Islam dan mempererat kebersamaan masyarakat. Kesempurnaan hanya milik Allah, sementara kekurangan tentu berasal dari kami sebagai manusia,” tutupnya.
.png)


.png)

