Melanjutkan rangkaian narasi budaya di Tugu Tani Isimu, panel keenam ini membawa kita kembali ke inti sektor agraris. Karya pahat ini secara mendalam mengabadikan metode pembajakan sawah tradisional yang sarat nilai historis.
Fokus utama relief menampilkan seorang petani tangguh yang sedang mengendalikan dua ekor sapi untuk membajak sawah. Tangan kanannya memegang cambuk kecil, sementara tangan kirinya memegang erat alat bajak kayu kuno.
Lumpur sawah yang tebal diukir dengan tekstur bergelombang dinamis pada bagian bawah pilar tugu. Kehadiran dua ekor burung bangau di dekat kaki sapi semakin memperkuat keaslian suasana ekosistem persawahan tropis.
Pada latar tengah atas, seniman menyisipkan detail menarik berupa sebuah pedati atau gerobak sapi yang sedang melintas. Moda transportasi tradisional ini merekam cara masyarakat zaman dahulu mengangkut hasil panen melimpah.
Latar belakang panel dipenuhi oleh ukiran pepohonan rindang dan semak belukar yang berjejer sangat rapat. Kombinasi elemen alam ini menciptakan efek kedalaman ruang yang mempertegas keindahan lanskap pedesaan Tibawa.
Pahatan ini menjadi simbol kerja keras, ketekunan, dan hubungan harmonis antara petani dengan hewan ternaknya. Ikuti terus ulasan berikutnya untuk membedah pesan filosofis yang tersisa pada panel ketujuh.




